Pages

Perpustakaan SMK N 2 Sragen

Siswa membaca koran di Perpustakaan SMK N 2 Sragen

Perpustakaan SMK N 2 Sragen

E Library di Perpustakaan SMK N 2 Sragen

Perpustakaan SMK N 2 Sragen

Perpustakaan SMK N 2 Sragen

Perpustakaan SMK N 2 Sragen

Siswa Belajar di Perpustakaan SMK N 2 Sragen

Perpustakaan SMK N 2 Sragen

Perpustakaan SMK N 2 Sragen

Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Tuesday, April 28, 2020

PESAN IBU GURU

Contoh Cerpen Singkat Anak Sekolah
Hari sekolah dimulai seperti biasa. Hari senin yang cerah seperti biasa para murid mengadakan upacara bendera. Setelah upacara seluruh murid kembali ke kelasnya masing-masing untuk mendapatkan pelajaran. Pada hari senin itu terdapat pelajaran Bahasa Indonesia, Biologi dan Matematika. Proses belajar mengajar berjalan seperti biasa tenang dan tertib.
Anak-anak pun istirahat pada jam 12. Kebanyakan murid makan di kantin sekolah dan saling mengobrol. Sampailah pada jam terakhir yaitu pelajaran Matematika. Guru Matematika yang mengajar bernama Ibu Sri. Seperti biasa Ibu Sri menjelaskan materi yang sudah terdapat di kurikulum dan memberikan beberapa nasehat kepada muridnya.
Ibu Sri pun menyampaikan kepada muridnya untuk mengulang pelajaran yang dipelajari di sekolah agar bisa memahaminya dengan baik. Hal tersebut harus dilakukan para murid setiap hari karena Ibu Sri bisa saja sewaktu-waktu akan memberikan kuis. Untuk itu Ibu Sri menyampaikannya agar para murid bisa menyiapkan diri dengan baik.
Tibalah jam pulang sekolah dimana seluruh murid merasa sangat senang karena bisa bermain sepulang sekolah. Terdapat 3 orang anak perempuan bersama Mirna, Ati, Rini. Mereka semua tinggal di lingkungan yang sama. Hal tersebut membuat ketiganya akrab dan sering pulang pergi sekolah bersama.
Saat pulang sekolah Rini mengajak kedua temannya untuk bermain di rumahnya sambil mengulas kembali pelajaran sekolah. Tanpa ragu kedua temannya pun menyetujuinya. Mereka pulang ke rumah masing-masing kemudian mandi dan berpamitan kepada orang tuanya ingin belajar bersama di rumah Rini.
Mirna pun bergegas membawa buku yang diperlukannya untuk mengulang kembali pelajaran sekolah. Sesampai Mirna di rumah Rini, ternyata Ati pun sudah datang. Keduanya sedang asyik bermain boneka. Mirna pun langsung mengajak kedua temannya untuk mengulas kembali pelajaran. Namun ajakan tersebut justru ditolak dengan alasan mereka sedang seru bermain boneka.
Tanpa menghiraukannya lagi Mirna langsung mulai belajar sendiri. Mirna membuka kembali buku catatannya dan mengulas kembali apa yang diajarkan Ibu Sri di kelas. Mirna mengulang kembali pelajaran karena ia mengingat pesan Ibu Sri. Sedangkan Rini dan Ati justru asyik saja bermain boneka.
Keesokan lusanya, kembali lagi para murid harus mendapatkan pelajaran Matematika yang diajarkan oleh Ibu Sri. Hari itu Ibu Sri tiba-tiba mengadakan kuis. Seluruh murid ricuh karena tidak menyangkanya dan kepanikan karena belum belajar. Padahal sebelumnya Ibu Sri sudah pernah memperingatkan mereka untuk mengulas kembali pelajaran sekolah.
Namun Mirna dengan percaya diri menganggap hal tersebut bukan masalah karena ia sudah memahami berbagai materi yang diajarkan oleh Ibu Sri. Kuis pun dimulai, terdapat 5 pertanyaan essay yang harus diisi oleh para murid beserta caranya. Yang sudah selesai bisa langsung mengumpulkan dan pulang.
Di saat Rini dan Ati kesulitan untuk mengerjakan soal kuis, Mirna pun sudah selesai mengerjakan soal dan mengumpulkannya duluan. Namun karena harus pulang bersama ia akhirnya menunggu temannya di depan kelas. Waktu mengerjakan kuis pun telah selesai dan akhirnya Rini dan Ati keluar. Mereka pulang bersama seperti biasa.
Keesokan harinya, Ibu Sri mengumumkan hasil kuis kemarin. Mirna mendapatkan nilai yaitu 10 sedangkan Ati dan Rini harus mendapatkan pelajaran tambahan karena nilainya yang jelek. Merasa menyesal, Ati dan Rini pun tidak ingin mengulang kesalahannya lagi dan akan mengulas pelajaran bersama Mirna agar bisa menguasai pelajaran dengan baik.

Menemukan Dompet


Berbulan-bulan sudah aku menanti panggilan kerja. Hari-hariku terasa seperti penuh kebingungan dan tanpa arah. Bahkan, kerjaanku hanya luntang luntung tak karuan di rumah. Mengalami kebingungan harus melakukan apa. Ingin memulai usaha namun tak punya modal.
Pada suatu hari, aku berniat untuk berjumpa dengan sahabt untuk menceritakan masalahku ini. Ketika sedang berada di jalan menuju rumah sahabatku, tepatnya di bagian samping jalan ujung dari tortoar, aku melihat sebuah dompet berwarna cokelat.
Aku mengambil dompet tersebut kemudian akupun membuka dan melihat isinya. Di dalam dompet tersebut ada SIM, KTP, beberapa surat penting, tabungan yang isinya sangat banyak dan sebuah kartu kredit. Dalam fikiran sempat muncul keinginan untuk menggunakan isi dari dompet tersebut.
Namun aku berubah fikiran dan berfikir harus mengembalikan dompet tersebut kepada yang memiliki. Selang beberapa saat sesudah aku pulang dari rumah sahabatku, akupun mengembalikan dompet tersebut. Mencoba mencari alamat pemilik yang ada di KTP.
“Permisi pak, apakah benar ini alamat pak Herman?” Tanyaku
“Saya Andi, ingin bertemu dengan bapak Herman. Ada urusan yang sangat penting.”
Kebetulan pak Herman ada di rumah dan aku diminta untuk masuk ke dalam rumah. Kemudian duduk di dekat beliau sembari menyerahkan dompet yang tadinya aku temukan.
“Kamu tinggal dimana Nak? Terus kerja dimana?” Tanya pak Herman dengan sangat penasaran.
“Di kompleks Asri Cempaka Pak. Kebetulan saya masih menganggur dan menunggu panggilan kerja. Namun sudah beberapa bulan belum ada panggilan.” Tambahku
“Kamu sarjana apa?” Tanyanya
"Ekonomi Manajemen Pak"
"Baiklah nak. Di perusahaan saya sedang membutuhkan staff Administrasi. Jika kamu Tertarik silahkan besok mengunjungi kantor saya jam 9 pagi. Ini kartu nama saya. "Sambung pak Herman.
"Sungguh pak?". Tanyaku penasaran
"Iya Nak. Saya sangat memerlukan karyawan yang jujur dan penuh dedikasi sepertimu"
"Terima kasih pak".
Aku seolah tidak percaya bahwa ini merupakan keajaiban.

Sunday, January 5, 2020

Cerpen : PUTU AYU


Menjadi seorang seller benar-benar akan membuatmu harus bekerja keras. Apalagi jika kamu memiliki tanggungan setoran yang harus diberikan untuk atasanmu. Dan juga tenggat yang diberikan untuk setiap produkmu.

Begitu pula yang dirasakan Ardilla Maheswara kelas XI TITL 1. Dia menjadi seller dari Bu Inah. Dia harus menjual sedikitnya 50 kue Putu setiap harinya. Ini digunakan sebagai awal kemandiriannya.

Dilla, panggilannya, adalah seorang anak cerdas yang bercita-cita menjadi seorang ahli politik sehingga dia selalu membaca buku-buku politik yang ada di perpustakaannya. Hanya itu yang bisa dia jangkau karena harga buku dengan ketebalan 100 saja sudah mahal sekali. Hampir setiap hari dia berkunjung ke Perpustakaan SMKN 2 Sragen untuk membaca buku-buku tersebut meski dia sedang dalam meminjam.

Hari ini tepat dia sebulan berjualan. Biasanya, kue-kue itu akan laris terjual pada istirahat pertama. Tidak untuk hari ini. Dia baru menjual 10 kue putu. Artinya masih ada 40 putu lagi yang harus dijual. Dan itu harus habis karena kue putu bu Ina akan membasi esok hari. Tentu saja hal itu membuat Dilla kalang kabut.

Dia langsung keluar begitu bel istirahat kedua berbunyi. Dia membawa keranjang berisi kue putu tersebut dan pergi menuju mushola putri. Sebelum berjualan, lebih baik dia beribadah dulu bukan? Meminta pada yang Maha Kuasa semoga kuenya laris hari ini.

Selepas sholat, dia kembali berkeliling sekolah. Di setiap kelas dia mencoba menawarkan. Tidak banyak memang, baru 5 orang yang membeli. Matanya melihat kue putu tersebut. Masih sisa 35. Dia mengingat peraturan dari Bu Ina ke setiap penjual kuenya.

“Kue ini cuma tahan sehari. Jadi sampai sore. Kalau tidak habis maka penjual yang harus membelinya sendiri.”

Dia ingat jelas bagian itu. Setiap produsen tidak mau rugi termasuk dirinya. Meskipun peraturan itu merugikan penjual layaknya dia, tetap saja, ini agar penjual berusaha menjual habis setiap target.

Saat dia sedang melintas di ruang 24. Dia menatap para siswa-siswi yang juga seangkatan dengannya sedang berkumpul. Mereka seperti sedang membeli sesuatu. Karena penasaran, Dilla pun masuk dan bertanya pada mereka.

“Kalian lagi beli apa?”

Salah seorang dari mereka menoleh ke arahnya. “Oh, ini ada donat. Sela yang jual. Mau? Enak loh. Seribu juga.” Jelas temannya itu dengan wajah riang.

“Eh, kue putu aku juga enak loh. Enak banget malah. Asli Indonesia. Harganya juga seribu.” Dilla ikut promosi agar menarik minat temannya.

Mereka yang disana menatap ke arah Dilla.

“Maaf ya Dil, aku udah beli donat milik Sela. 2 buah,” balas Weni.

“Iya. Maaf ya. Aku lagi seneng donat. Kapan-kapan ya putunya,” tambah Gea. Dia berucap dengan nada candaan namun tetap saja rasanya sakit.

“Iya. Coba ke kelas sebelah. Kelas kami udah pada beli donat.” Itu Aldo yang berbicara. Seolah seperti usiran halus. Dilla menarik napas dalam. Dia lalu berjalan keluar. Namun setelah dia sampai pintu.

“Dilla!” Seseorang memanggilnya. Dilla berbalik. Pepen memanggilnya dan berlari mendekat kearahnya. “Aku beli putunya 2 ya.”

Pepen mengambil dua buah putu ayu disana. Dia memberikan uang dua ribuan yang belum ditanggapi Dilla. “Kenapa gak diambil?”

“Pen, maaf. Bukannya maksud mau mikir negatif. Tapi kamu beli bukan karena kasihan sama aku kan Pen?” Dilla ingin menangis sekarang. Dia tahu sekarang Indonesia bersaing dengan negara luar. Banyak barang yang berasal dari sana dan rakyat Indonesia lebih menyukainya dari produk sendiri. Tapi, kenapa harus putu ayunya juga kena?

Pepen tersenyum kecil. “Enggaklah Dil. Aku emang suka putu ayu. Lagian, aku emang selalu beli kan.”

Dilla mengangguk. Memang benar Pepen tak pernah absen membeli dagangannya. “Makasih Pen. Pamit dulu ya,” pamit Dilla setelah dia mengambil uang dua ribuan yang disodorkan Pepen.

“Iya Dil.” Pepen lalu berjalan kembali ke mejanya.

Dilla berjalan sampai ruang 26. Dan dia mendapatkan 5 orang lagi. Kini dagangannya tinggal 28 buah lagi.

Semoga udah mau abis. Semangat Dil!

Dengan langkah riang dia berjalan turun dari tangga dan menawarkan kembali di ruang bawah. Tidak banyak memang, tetap saja dia senang. Karena bagaimanapun masih ada uang menyukai kue khas Indonesia itu.

Dia melihat jam tangan di tangan kirinya. 12:15 WIB. Artinya, tinggal 15 lagi dengan 28 kue lagi. Dan Dilla harus bisa memutar otak secepat kilat.

Selintas, ada pikiran untuk menawarkan ke kantin. Tapi, apakah pantas? Dikantin sudah menyediakan menu kantin sendiri. Takutnya, dia malah seolah mengambil rezeki orang meski itu hanya ada di pikirannya.

Dia kembali menelusuri jalanan kelas. Dan dia berhenti di perpustakaan. Dilla memutuskan untuk masuk menawari Bu Cakya dan lainnya yang sedang di perpustakaan.

“Assalamualaikum,” salamnya begitu masuk kedalam. Dia mendekati meja yang menjadi pembatas antara ruang kerja staf perpustakaan dan pengunjung.

“Bu, mau coba kue putu saya? Murah loh Bu. Ini sehat, buatan rumah,” dengan nada persuasif dia menawari staf yang ada disana termasuk Bu Cakya.

Bu Cakya memberinya sorot tertarik. Guru tertua di Perpustakaan itu mendatangi dirinya. “Jadi kamu yang jualan kue putu?”

“Iya Bu.”

“Kenapa milih jualan kue putu ayu?” Tanya Bu Cakya lagi.

“Ini salah satu cara yang bisa saya lakukan agar makanan tradisional Indonesia gak punah Bu. Secara kan sekarang banyak orang suka produk luar daripada produk sendiri. Saya cinta Indonesia Bu!” Semangatnya lalu terkekeh kecil.

Bu Cakya ikut tertawa. “Iya, Ibu juga cinta Indonesia. Tetap jangan malu ya jualan kue putu meski mie panjang-panjang sama burger-burger main kesekolahan.” Nasihat Bu Cakya.

“Iya Bu. Itu pasti!!!” Ujar Dilla dengan mata berbinar-binar.

“Kue kamu berapa harganya?”

“Seribu Bu.”

“Masih sisa berapa?” Bu Cakya melirik sisa kue di ranjang.

“Masih 28 Bu. Ibu mau beli? Atau mau coba dulu?” Tawar Dilla lagi.

Bu Cakya mengambil uang 20 ribuan dari saku baju batiknya. Dia memberikan pada Dilla. “5 aja ya Dil.”

Dilla dengan cekatan mengambil plastik bening dan memasukkan 5 buah kue putu kedalam sana. Lalu memberikan pada Bu Cakya sebelum dia mengembalikan sisa uang.

“Terimakasih Bu.” Dia tersenyum. Dilla berjalan menuju pengunjung perpustakaan yang di dominasi kelas X. Dan kembali, kuenya laku 13.

Alhamdulillah tinggal 10!” Gumamnya pada dirinya sendiri. Dia keluar dari sana dengan berpikir lagi mengenai cata agar kuenya laku.

Dan bel masuk berbunyi. Dilla segera menuju ruang 07 dimana kelasnya berada sekarang. Dia berniat menjualnya lagi pada istirahat ketiga.

Sayangnya, itu hanya wacana karena ternyata guru mapel Sejarah memberikan tugas yang harus selesai sebelum bel pulang berbunyi. Jadi, setelah sholat dia kembali ke kelasnya. Melanjutkan membuat tugas. Saking asyiknya, dia melupakan rencananya untuk mengambil kue putu.

Setelah bel masuk berbunyi, dia menepuk jidatnya. “Ya Tuhan. Beta lupa menjual Putu ayu punya beta.” Ucapnya seolah dia ini orang Indonesia Timur. Itu membuat teman sebelahnya tertawa.

“Apa lu?” Serunya galak. Temannya makin tertawa. Dilla panik malah diketawain. Sungguh teman yang patut diajak berkelahi.

“Bercanda-bercanda. Btw, kenapa sih?” Tanya temannya itu.

“Putunya masih sisa 10. Bantuin jualin donk.” Dia menatap penuh pengharapan. Kembali membuat temannya tertawa. “Ish! Mau nggak?” Tanyanya kesal.

“Iya-iya. Gue bantu--”

“Serius?!” Seru Dilla tak sabar. Dia memotong ucapan temannya.

“Iya. Dengan doa.” Sambung temannya lagi dan kembali tertawa. Dilla merengut kesal.

“Liat aja ya. Jangan minta e-book aku lagi!” Ancamnya kesal. Temannya tentu saja menghentikan tawanya.

“Jangan donk. Kalau minta kamu kan gratis. Dilla yang baik,” Rayu temannya.

Padahal mah, jika kamu tahu. Dilla tidak pernah membeli yang namanya e-book. Dia mendapatkan dari temannya, Heba yang sering mengikuti cover contest.

“Mana aku peduli.” Dan mereka tidak melanjutkan pembicaraan lagi karena sang guru sudah masuk kedalam kelas.

Akhirnya, bel pulang berbunyi. Seluruh siswa mulai keluar dari kelasnya masing-masing. Melihat sisa kue putu tinggal 10, dia memutuskan menjual di tempat parkir saja.

Dia menunggu orang-orang yang berseragam sama dengannya berhenti untuk membeli kuenya. Sayangnya tidak ada. Sampai parkiran yang penuh itu sepi.

Dia menarik napasnya. Lalu mulai memakai helm biru miliknya. Saat dia menyalakan motor maticnya, seseorang memanggilnya.

“Eh Dek, kuenya masih?” Tanya seseorang yang merupakan kakak kelas dengan nama Radio Sanjaya.

“Masih sepuluh Kak. Mau beli?” Dilla mematikan sepeda motornya.

“Iya. Saya beli semuanya. Besok masih jual?” Dilla menghentikan kegiatannya mengambil plastik.

“Iya, jualan setiap hari Kak,” jawabnya sambil memasukkan kue putu itu.

“Oh. Soalnya kalau saya mau beli selalu habis. Makasih ya.” Radio mengulurkan uang 10 ribuan yang diterima langsung oleh Dilla.

“Dek, tetep jual kue putu ya. Buat Indonesia selalu ingat kalau kita punya kue warna ijo.”

Sebelum pergi, Radio memberikan senyum manisnya untuk Dilla. Dilla balas tersenyum. Dan setelah Radio berbelok ke arah kiri, Dilla menyalakan kembali motornya dan pergi dari sana.

NAMA            : HEBA CAROLINA M.D
KELAS           : XII TKJ 1
NO.ABS         :28

Thursday, July 21, 2016

Cerpen : Jeritan Malam



Malam itu sesosok bayangan terlihat melintas di sebuah pekarangan rumah yang megah. Warga desa telah terlena dalam buaian mimpi, melepas segala kepenatan setelah lelah seharian mengais rejeki. Tanpa adanya sinar bulan dan cahaya bintang, menambah suasana mencekam dalam pekatnya malam.

“Tolooonggg…!!!!” Jerit seorang wanita panik.
Secepat kilat sosok yang tak dikenal itu mengayunkan senjatanya.
“Aaakkhhh…!” Terdengar pekikan yang menyayat sebelum akhirnya hening.

Esoknya, rumah itu telah disesaki dengan kerumunan orang. Lihatlah, mayat yang kini terkapar dengan mengenaskan. Mereka tak menyangka di dalam desa ini tersembunyi seorang pembunuh.

Menyeruak di antara kerumunan orang, seorang anak remaja tanggung terkesiap mendapati majikannya telah tewas dengan kondisi memprihatinkan. Dadanya bergemuruh hebat, tidak habis pikir. Ia berbalik dan kemudian berlalu menuju rumahnya.

“Pak.. sudah dengar berita tentang Bu Janet?” Tanya pemuda itu dengan nafas tersengal-sengal.
“Belum. Memangnya kenapa dengan dia?” Si Bapak malah balik bertanya.
“Tadi, waktu aku mau berangkat kerja di rumahnya, kulihat banyak sekali orang yang sedang berkerumun, lengkap dengan petugas kepolisian. Dan kau tahu Pak, Bu Janet ditemukan tewas dengan kondisi yang mengenaskan! Terutama yang paling mengerikan semua organ tubuhnya hilang! Hii…” Terang Boni, si remaja tanggung yang baru saja kembali dari rumah majikannya. Ia bergidik ngeri membayangkan sang majikan yang merupakan seorang janda kaya raya di desanya harus mati terbunuh dengan tidak wajar.
“Sudahlah, itu bukan urusanmu” Pak Boni menyesap puntung rok*k di tangannya.
“Justru sekarang Boni jadi bingung Pak, kemana harus mencari pekerjaan. Padahal aku sudah menikmati pekerjaanku sebagai supir. Tak disangka semua akan jadi seperti ini” Menghela napas, Boni beringsut dari kursi rotan yang didudukinya.
“Mau kemana kamu?”
“Ke rumahnya si Rolan” Dan Boni telah menghilang di balik pintu.



Suara jangkrik bergema di setiap sudut-sudut hutan itu. Dua orang lelaki paruh baya setengah tergesa menggotong sebuah karung yang nampak berat. Sebentar lagi hari beranjak malam, mereka harus bergegas.
“Huh, berat juga!” Umpat lelaki bertubuh gempal. Napasnya terengah-engah.
“Sudah, tidak usah mengeluh.. hari sudah senja. Sebaiknya kita lekas membawanya kalau kau ingin mendapat uang yang banyak.” Tegur lelaki berkumis lebat.
Bau anyir menusuk indra penciuman mereka. Dari sudut-sudut karung menetes darah hitam pekat.



“Bagaimana, kau setuju?” seorang remaja tanggung bertubuh kerempeng menepuk pelan bahu sepupunya yang sedang melamun.
“Hm.. baiklah aku setuju. Besok kau antarkan aku ke lahan yang dimaksud. Sekarang aku pulang dulu, hari sudah mau malam” Boni tersenyum pada Rolan yang duduk di hadapannya.
“Hati-hati di jalan!” Rolan melambaikan tangan.



Dengan bermandi peluh Pak Seno berjalan kaki melewati jalan setapak di pinggiran hutan. Sesekali ia berpapasan dengan warga yang melintas hendak pulang setelah seharian berkebun.
“Darimana Pak?” Boni bertanya setibanya Pak Seno dirumah.
“…” Pak Seno tidak menjawab. Ia menyalakan pelita, satu-satunya penerangan rumah mereka.
“Oh ya Pak, besok aku tidak pulang. Si Rolan mengajakku untuk bekerja di lahannya yang kosong”
“Hm, baguslah kalau kau sudah dapat pekerjaan baru”



Siang itu dua orang remaja tanggung berjalan ke arah timur kampung. Rolan dan Boni masing-masing memegang cangkul dan sabit sebagai alat untuk bekerja pada lahan yang mereka tuju. Mereka akan menanami lahan itu dengan tanaman palawija.
“Malam ini kita akan bermalam di kebun, kau sudah membawa bekal dan peralatan yang kuperintahkan?” Rolan membuka suara, memecah hening di antara mereka.
“Sudah semua”
“Bagus, ayo lebih cepat” Rolan mempercepat langkahnya.



Langit mendung menyelimuti malam yang tak berbintang. Membuat orang-orang enggan ke luar rumah. Sebentar lagi hujan akan turun. Suara lolongan anjing hutan membelah keheningan, di tengah malam seperti ini orang percaya itu adalah pertanda menculnya hantu yang bergentayangan. Namun itu tak membuat Boni gentar. Saat ini, ia sedang berada di tengah hutan bersama Rolan.
Tiba-tiba di kejauhan terdengar seseorang berteriak.
“Ssstt.. kau dengar itu Lan?” Boni membangunkan sepupunya yang meringkuk di balik sarung.
“Ngghh.. apa sih Bon” Rolan menguap lebar-lebar.
“Sepertinya ada yang berteriak meminta tolong di arah sana” Boni menunjuk di kejauhan.
“Hah? Mana mungkin ada orang lain di hutan ini, tengah malam pula. Sudahlah mungkin kau lelah. Ayo tidurlah, besok masih banyak pekerjaan yang menunggu” Rolan kembali merapatkan sarung di tubuhnya.
Tak lama kemudian, suara dengkuran halus memenuhi dangau tersebut.
Namun Boni tak dapat memejamkan mata. ia terus dihantui rasa penasaran dengan suara jeritan yang barusan didengarnya. Ia yakin tidak salah dengar. Apalagi 3 hari yang lalu majikannya tewas dengan cara yang sadis. Itu semua membuat ia berpikir keras, mencoba menghubungkan peristiwa kematian Bu Janet dengan kejadian tadi. Khawatir bertambahnya korban, tanpa sepengetahuan Rolan ia berjalan mengendap-ngendap menyusuri hutan dengan berbekal sabit di tangan. Tekatnya sudah bulat untuk mengetahui apa sebenarnya yang sedang terjadi di kampungnya.



“Hahaha.. mampus kau!” Lelaki bertubuh gempal menyeringai seram.
“Besok, kita akan dapat uang banyak No’ ! Hahaha.. Cepat masukan organ tubuh itu ke dalam karung!” Perintah si lelaki berkumis.
Dengan cepat mereka melakukan pekerjaan terkutuk itu. Tanpa mereka sadari, sepasang mata sedang mengintai mereka dari balik semak belukar.
Belum sempat menyadari apa yang terjadi sesosok makhluk menyeruak di kegelapan malam.
“Wesshhh..!!”
“Ahhkkkk!!!!!!!”
Sekali tebas dan dua orang itu tak lagi bergerak.
Boni mendekat pada kedua orang yang telah ia lumpuhkan. Sebenarnya ia tak tega untuk melakukan perbuatan keji ini. Tapi apa boleh buat, daripada lebih banyak korban yang berjatuhan tidak ada pilihan lain selain menghabisi mereka.
Boni mendekat perlahan, tangannya terjulur. Ia berusaha membalikkan tubuh kedua orang tersebut. Jantungnya berdebar-debar, ia penasaran dengan kedua wajah orang yang telah meresahkan warga desa akhir-akhir ini.
“Bapak?!!!” Pekik Boni terkejut bukan main.
Dua orang yang telah ia bunuh adalah bapak dan pamannya sendiri.
Boni terduduk lemas.



‘Kasus Penjualan Organ Tubuh Manusia yang Terjadi di Kampung Tomon Telah Terungkap’
Rolan menghela napas panjang, setelah membaca judul berita di koran pagi ini.
“Kau tidak pergi Lan?” Sebuah suara mengejutkan dirinya.
“engh? Rolan pergi kok mak, ayo.” Mereka meninggalkan ruang tamu.
Rolan dan emaknya pun bergegas pergi. Mereka akan menghadiri upacara pemakaman.
Ya, pelaku pembunuhan di desa tersebut adalah Ayah dari Boni dan Rolan. Namun, mereka telah tewas di tangan Boni sehingga tak sempat diciduk polisi. Sedangkan Boni sendiri tewas bunuh diri.
Rolan tahu pasti. Boni pasti sangat menyesal dan tidak sanggup menerima kenyataan bapaknya akan tewas di tangannya sendiri. Jika saja Boni tahu, bapaknya melakukan itu untuk mewujudkan impiannya membeli sebuah rumah yang layak untuk mereka tempati.
Rolan dan emakya tersedu mengiringi ketiga jenazah tersebut ke peristirahatannya yang terakhir.

THE END

Cerpen Karangan: Ashyira Hana Yhuki
Facebook: Asyhira Hana Yhuki



Ini merupakan cerita pendek karangan Ashyira Hana Yhuki, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: Ashyira Hana Yhuki untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis.

sumber : http://cerpenmu.com/cerpen-misteri/jeritan-malam-2.html